Dua orang ini Nampak lebih muda, sementara yang lain merasa masih muda, hhee tapi itu bukan soal, sebab untuk mengisi kepala dengan pengetahuan tak perlu melihat usia. Bukan mereka yang harus minder ketika sama tempat duduk dengan yang muda, tapi yang mudalah yang harus malu jika semangat belajar yang tak semuda usianya, sementara mereka dengan semangat yang tak pudar karena usia. Terlihat disini, Yang berstatus pengajar kampus masih ingin belajar, sementara yang jelas masih status pelajar kampus sudah letih untuk belajar. Semangat generasi telah tertukar.
Dari sekian banyak topic yang kami bincangkan, ada satu topic yang
membuat kami terkesima yaitu diskusi tentang arah kiblat. Berdasarkan observasi
teman-teman RHI Sulsel, bahwa masih banyak masjid di Makassar dan sekitarnya
dengan arah yang salah, bahkan sangat jauh dari arah ka’bah, jika dilihat
menggunakan google earth arahnya bahkan ke madagaskar afrika selatan.
diantara
banyaknya masyarakat, hanya sebagian saja yang kooperatif untuk diukurkan ulang
arahnya dalam artian masjidnya harus dirombak. Sementara yang lainnya ada yang
menolak, alasan penolakannya tidak seilmiyah alasan untuk merombak, hanya saja
yang menjadi pegangan kuat bahwa bangunan lama itu merupakan warisan leluhur
yang tak dapat diganggu gugat, harus disesuaikan dengan arah jalan raya supaya
terlihat pas, ada juga posisi jamaah didalam masjidnya yang menyesuaikan.
Sampai
salah seorang pesertapun berdiri menyanggah, mengapa begitu sibuk dengan arah
kiblat, bukankah kepunyaan Allah timur maupun barat, kita sibuk menghadapkan
zohir ke ka’bah tapi tidak untuk menghadapkan batin ke Allah, ka’bah adalah
arah, Allah adalah tujuan. hal itu membuat kami terkesima. Kalau mau jujur
benar juga yang disampaikan bapak itu, begitu kita sibuk dengan wujud tapi
kering dari esensi.
Jika demikian, lantas apa makna lafaz wajh dari surah albaqarah
144, apa yang diminta untuk diarahkan.? Arahkan wajah ataukah hati.? Jika
wajah, maka apa harus mengabaikan hati, atau jika cukup dengan hati maka tak
masalah jika wajah menghadap ke segala arah.?
Analogi untuk menjawab itu, bila seorang merasa lapar, apa sudah
cukup jika ia hanya berniat untuk makan .? tentu belum. Ia harus ada keinginan
sekaligus dalam tindakan, walaupun level penyembahan dan makan jelas berbeda.
Nabi sebagai manusia yang begitu mulia dengan segenap jiwa ia hadapkan ke
Tuhannya, ketika ayat itu turun dalam shalat ia merubah arah kiblatnya.
Sehingga tempat peristiwa itu terjadi dikenal dengan istilah kiblataian (dua
arah kiblat). kata wajh bukan hanya wajah yang diarahkan, kalau demikian maka
shalatnya adalah sambil menoleh, tapi wajah yang dimaksud ialah keseluruhan
dari raganya, maka kiblat adalah penghadapan secara total baik zahir ke arah
ka’bah sebagai pusat bumi di masjidil harom maupun batin ke sisi Tuhan.
Hikmah lain dari rangkaian ayat 143 ialah ka’bah sebagai arah
pertengahan pusat bumi, begitupun juga islam sebagai agama yang Wasatan, islam
tidak menerima banyak Tuhan juga tak menolak adanya Tuhan, maka ummatnya
haruslah bersikap wasotiyah, Tidak liberalis kiri juga tak konservatif kanan.
Wasot sebagaimana wasit, bersikap sebagai penengah. Sembahyang dimalam hari
bukan berarti sembahyang disepanjang malam, karena nabi juga tidur. menyiapkan
diri mencintai Tuhan bukan berarti tak ada ruang untuk makhluq, karena nabi
juga menikah. tak over karena berlebihan juga tak lesu karena malas-malasan.
Jadilah ummatan wasatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar